Rabu, 01 April 2009

Hadis Aqidah

BAB I
PENDAHULUAN

Konsep Ru’yatullah menjadi sebuah perdebatan dialogis yang luar biasa di antara dua kelompok besar yang kita kenal sebagai kelompok rasionalis (Mu’tazilah) dan Fundamentalis (ahlu al Sunnah Wa al Jama’ah). Dialog yang terjadi memperdebatkan kemungkinan atau ketidakmungkinan manusia melihat Tuhannya besok di akhirat. Argumen beserta hujatan mereka lontarkan untuk mempertahankan pendapat mereka.
Banyak Hadits yang telah diriwayatkan oleh Muhaddisin yang sampai sekarang mungkin masih banyak yang belum kita ketahui bahkan mungkin kita belum pernah membacanya, apalagi Hadits-Hadits yang ada hubunganya dengan Tuhan, misalnya hadis tentang melihat Tuhan, siapa saja yang bisa melihat Tuhan, kapan bisa melihat Tuhan, dan lain-lain.
Sebuah kenikmatan besar kita bisa melihat Tuhan. Mungkin selama ini banyak keluhan yang muncul dari kita tentang bagaimana wujud Tuhan, hakikat Tuhan dan lain-lain. Dan itu sebenarnya akan terjawab oleh diri kita sendiri.
Begitu pula tentang melihat Nabi Muhammad menjadi sebuah impian besar bagi seorang muslim. Bahkan ada di antara mereka saking pinginya mimpi bertemu Rasulullah melakukan sebuah ritual dengan cara berpuasa, baca wirid dan lain sebagainnya. Pada makalah ini, kami akan mencoba menyodorkan Hadits-Hadits yang berkaitan dengan tema di atas serta berusaha mendeteksi kualitasnya.










BAB II
PEMBAHASAN

A. Teks Hadits
1.Tentang Melihat Allah di Akhirat
Shahih Muslim, bab Itsbatu Ru’yatil Mukminin Fi Al Akhirah no. 266
266 – حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مَيْسَرَةَ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ صُهَيْب عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنْ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَزَادَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ{ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ }
Artinya: Menceritakan kepada saya ‘Ubaidillah bin Maisarah, Maisarah berkata, menceritakan kepadaku ‘Abdul Rahman bin Mahdi, menceritakan kepadaku Hammad bin Salamah dari Tsabit al Banani dari Abdi Rahman bin Abi Laila dari Shuhaib dari Nabi saw. Beliau bersabda”Ketika ahli surga telah masuk surga, Allah berfirman-lanjut Nabi-Apa kalian menginginkan sesuatu, maka akan saya tambah. Mereka menjawab, Bukankah telah engkau putihkan wajah-wajah kami? Bukankah telah engkau masukkan kami ke dalam surga dan Engkau selamatkan kami dari Neraka?Nabi bersabda, Maka dibukalah hijab. Maka tiadalah sesuatu yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka senangi dari pada melihat Tuhan mereka.”
Ayat-ayat yang berkaitan dengan Ru’yatullah:
              •     
Artinya: Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. mereka Itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.(Qs. Yunus:26)
       
Artinya: Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.Kepada Tuhannyalah mereka Melihat.(Qs. Al Qiyamah:22-23)
2.Tentang Melihat Nabi Muhammad Dalam Mimpi
Shahih Bukhari, dalam kitab Ta’bir no. 6478
-6478حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ عَنْ يُونُسَ عَنْ الزُّهْرِيِّ حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي
قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ قَالَ ابْنُ سِيرِينَ إِذَا رَآهُ فِي صُورَتِهِ

Artinya: Menceritakan kepadaku ‘Abdan, menceritakan kepadaku ‘Abdullah dari Yunus dari Zuhri, menceritakan kepadaku Abu Salamah bahwa Abu Hurairah berkata, saya mendengar Nabi bersabda,”Barang siapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam kenyataan dan Syaitan tidak akan menyerupaiku”.Abu Abdillah berkata, bahawa Ibu Sirin “Ketika seseorang melihat Nabi Muhammad dalam bentuknya”






B. Takhrij al Hadits
1.Tentang Melihat Allah
Sama halnya dengan tema di atas tentang Ru’yatullah, Hadits yang terkait tidak sedikit jumlahnya. Oleh karena itu, takhrij yang kita lakukan hanya dalam wilayah al Kutub al Tis’ah. Maka dari itu, setelah melakukan kajian takhrij, kita menemukan bahwa Hadits tentang melihat Allah di akhirat bersumber dari Shahih Muslim, dalam kitab Iman nomor 266. Selain itu, Hadits ini juga dikeluarkan oleh:
1. Musnad Ahmad nomor 18177, 22799, dalam kitab Awwalu Musnad al Kuffiyyin
2. Sunan Turmudzi nomor 2475, kitab Sifatual Jannah ‘An Rasulillah
3. Sunan Ibnu Majah nomor 183, kitab Muqaddimah


Sunan Turmudzi, bab Wa min Surati Yunus no. 3030
3030- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ صُهَيْبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
{ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ } قَالَ إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ نَادَى مُنَادٍ إِنَّ لَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ مَوْعِدًا يُرِيدُ أَنْ يُنْجِزَكُمُوهُ قَالُوا أَلَمْ يُبَيِّضْ وُجُوهَنَا وَيُنْجِنَا مِنْ النَّارِ وَيُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ قَالَ فَيُكْشَفُ الْحِجَابُ قَالَ فَوَاللَّهِ مَا أَعْطَاهُمْ اللَّهُ شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَيْهِ قالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ هَكَذَا رَوَاهُ غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ مَرْفُوعًا رَوَاهُ سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ
هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَوْلَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ صُهَيْبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
Artinya: Menceritakan kepada saya Muhammad bin Bassyar, Bassyar berkata, menceritakan kepadaku ‘Abdul Rahman bin Mahdi, menceritakan kepadaku Hammad bin Salamah dari Tsabit al Banani dari Abdi Rahman bin Abi Laila dari Shuhaib dari Nabi saw. Beliau bersabda”Ketika ahli surga telah masuk surga, Maka ada suara orang memanggil “Sesungguhnya kalian telah dijanjikan Allah sesuatu, maka Allah ingin menyelamatkan kalian semua, (Bahwa bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya). Mereka menjawab, Bukankah telah engkau putihkan wajah-wajah kami? Engkau selamatkan kami dari Neraka? dan Bukankah telah engkau masukkan kami ke dalam surga? Nabi bersabda, Maka dibukalah hijab. Demi Allah tiadalah sesuatu yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka senangi dari pada melihat Tuhan mereka.”
Sunan Ibnu Majah, bab Fi Ma Ankarat Al Jahamiyah no 183
183 – حَدَّثَنَا عَبْدُ الْقُدُّوسِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ{ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ }
وَقَالَ إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ نَادَى مُنَادٍ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ إِنَّ لَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ مَوْعِدًا يُرِيدُ أَنْ يُنْجِزَكُمُوهُ فَيَقُولُونَ وَمَا هُوَ أَلَمْ يُثَقِّلْ اللَّهُ مَوَازِينَنَا وَيُبَيِّضْ وُجُوهَنَا وَيُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَيُنْجِنَا مِنْ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَيَنْظُرُونَ إِلَيْهِ فَوَاللَّهِ مَا أَعَطَاهُمْ اللَّهُ شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ يَعْنِي إِلَيْهِ وَلَا أَقَرَّ لِأَعْيُنِهِمْ
Artinya: Menceritakan kepada saya Abdul Quddus bin Muhammad, menceritakan kepadaku Hajjaj, menceritakan kepadaku Hammad, dari Tsabit al Banani dari Abdi Rahman bin Abi Laila dari Shuhaib, Shuhaib berkata, Rasulullah saw membaca ayat ini (Bahwa bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik(surga) dan tambahannya) dan beliau bersabda”Ketika ahli surga telah masuk surga, dan ahli neraka masuk neraka, Maka ada suara orang memanggil “Wahai penghuni surga sesungguhnya kalian telah dijanjikan Allah sesuatu, mereka menjawab, apa itu? Bukankah Allah telah membuat berat timbangan kami dan telah memutihkan wajah-wajah kami? memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari Neraka? Nabi bersabda, dibukalah hijab, sehingga mereka bias melihat Allah. Demi Allah, mereka tidak diberi sesuatu oleh Allah yang lebih mereka sukai dan senangi melebihi bias melihat-Nya”
2. Melihat Nabi Dalam Mimpi
Adapun Hadits yang menerangkan tentang melihat Nabi dalam mimpi bersumber dari Shahih Bukhari, dalam kitab Ta’bir nomor 6478. Selain itu, Hadits ini juga dikeluarkan oleh:
1. Shahih Muslim nomor 4206, 4207, dalam kitan al Ru’ya
2. Sunan Abi Daud nomor 4369, dalam kitab Adab
3. Sunan Turmudzi nomor 2202, dalam kitab al Ru’ya ‘an Rasulillah
4. Sunan Ibnu Majah nomor 3894, dalam kitab Ta’bir al Ru’ya
5. Musnad Ahmad nomor 3608, dalam kitab Baqi Musna al Mukatssirin
Shahih Muslim nomor 4206, 4207, dalam kitan al Ru’ya

4206 - حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْعَتَكِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ وَهِشَامٌ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي
Artinya: Menceritakan kepadaku Abu Rabi’, Sulaiman bin Daud al ‘Ataki, menceritakan kepadaku Hammad,Ibnu Zaid menceritakan kepadaku Ayub dan Hisyam dari Muhammad dari Abu Hurairah berkata, Nabi bersabda,”Barang siapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia sungguh melihatku dan Syaitan tidak akan menyerupaiku”.
Sunan Abi Daud nomor 4369, dalam kitab Adab
4369 - حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ أَوْ لَكَأَنَّمَا رَآنِي فِي الْيَقَظَةِ وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي
Artinya: Menceritakan kepadaku Ahmad bin Shalih, menceritakan kepadaku Abdullah bin Wahab, Wahab berkata, menceritakan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab, Syihab berkata menceritakan padaku Abu Salamah bin Abdul Rahman bahwa Abu Hurairah berkata, aku mendengar Nabi bersabda,”Barang siapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam kenyataan atau(Syak dari Rawi)Seakan-akan melihatku dalam kenyataan dan Syaitan tidak akan menyerupaiku”.
Sunan Turmudzi nomor 2202, dalam kitab al Ru’ya ‘an Rasulillah
2202 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي وَأَنَسٍ وَأَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ عَنْ أَبِيهِ وَأَبِي بَكْرَةَ وَأَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي قَتَادَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيدٍ وَجَابِرٍ
Artinya: Menceritakan kepadaku Muhammad bin Basyar, menceritakan kepadaku Abdul Rahman bin Mahdi, menceritakan kepadaku Sufyan dari Abi Ishak dari Abi Ahwash dari Abdullah, Nabi bersabda,”Barang siapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia sungguh melihatku dan Syaitan tidak akan menyerupaiku”.
Sunan Ibnu Majah nomor 3894, dalam kitab Ta’bir al Ru’ya juz 11 hlm. 376.
3894 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا سَعْدَانُ بْنُ يَحْيَى بْنِ صَالِحٍ اللَّخْمِيُّ حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ أَبِي عِمْرَانَ عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَكَأَنَّمَا رَآنِي فِي الْيَقَظَةِ إِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَتَمَثَّلَ بِي
Artinya: Menceritakan kepadaku Muhammad bin Yahya, menceritakan kepadaku Sulaiman bin Abdul Rahman, menceritakan kepadaku Sa’dan bin Yahya bin Shalih, Mencereitakan kepadaku Shadaqah bin Abi Imran dari ‘Aun bin Abi Juhaifah dari bapaknya dari Nabi, Nabi bersabda,”Barang siapa yang melihatku dalam mimpi, maka iaseakan-akan sungguh melihatku dan Syaitan tidak akan menyerupaiku”.
C. Pemaknaan
Redaksi seperti ini juga diriwayatkan oleh Turmudzi, An Nasai dan beberapa perawi Hadits lain sebagaimana yang akan kami sebutkan satu persatu di bagian takhrij nanti. Mereka semua meriwayatkan Hadits ini dari Hammad bin Salamah dari Tsabit al Bunni sampai pada Rasulullah. Dalam Hadis ini dapat kami simpulkan bahwa nikmat terbesar yang akan diberikan Allah kepada orang mukmin salah satunya adalah kemampuan mereka untuk berdialog langsung dengan Allah besok di akhirat. Tidak hanya itu, ketika hijab- sebuah cahaya yang mana maata kita tidak akan mampu menatapnya, bahkan ketika cahaya tersebut terbuka maka ia akan menyengat muka- maka, mereka mendapat kesempatan untuk melihat wujud Allah. Hal itu telah didokumentasikan dalam firman-Nya dalam surah Yunus ayat 26, bahwa bagi mereka yang berusaha memperbaiki ibadah dan amal perbuatannya di dunia, selalu patuh terhadap perintah dan larangannya, mempertebal iman dan beramal shalih, maka mereka akan mendapat sebuah kenikmatan luar biasa yaitu al husna (surga) dan Ziyadah(melihat Allah). Bahkan wajah mereka akan bersinar seperti halnya rembulan

Mengenai Hadits tentang melihat Nabi Muhammad dalam mimpi mempunyai varian redaksi yang tidak sedikit. Redaksi Hadits tersebut diriwayatkan pula dalam Musnad Ahmad, Sunan Turmudzi dan lain-lain sebagaimana yang kan kami singgung nanti. Dalam riwayat lain ada yang .أو فكأنما رآني في اليقظة ada pula yang memakai redaksi فقد رآني في اليقظة memakai redaksi. Hadit ini memberi isyarat bahwa siapapun yang mimpi bertemu Nabi Muhammad, maka itu merupakan sebuah indikasi bahwa ia akan melihatnya besok di akhirat. Selain itu, dalam Hadits ini juga mneyebutkan bahwa syaitan tidak mampu berwujud seperti Nabi Muhammad. Dalam arti bahwa itu benar-benar Nabi Muhammad.

D. Tahqiq al Hadits
Dari hasil takhrij di atas, dapat disimpulkan bahwa Hadits Tentang melihat Allah yang diriwayatksan oleh imam Muslim dalam kitab Iman no. 266, Turmudzi dalam kitab Sifatual Jannah ‘An Rasulillah no. 2475, Ibnu Majah dalam kitab Muqaddimah no. 183 menurut al Bani kualitas Hadits tersebut termasuk Hadits shahih
Adapun Hadits tentang melihat Nabi Muhammad dalam mimpi yang diriwayatkan oleh Shahih Muslim no.4206, dalam kitab al Ru’ya termasuk hadits Shahih, sedangkan Sunan Abi Daud nomor 4369 menurutnya juga berkualitas Shahih. Sedangkan Hadits yang dikutip Dalam kitab Adab Sunan Turmudzi no. 2202, dalam kitab al Ru’ya ‘an Rasulillah, Sunan Ibnu Majah no. 3894, dalam kitab Ta’bir al Ru’ya, Musnad Ahmad nomor 3608, dalam kitab Baqi Musnadil al Mukatssirin , Menurut al bani semuannya berkualitas Shahih.

E. Lintas Keilmuan Dan Analisis
Mereka yang mengatasnamakan Ahlu Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah berpendapat bahwa dzat Allah akan dapat dilihat oleh manusia di akhirat kelak, sebagaimana yang telah didokumentasikan Allah dalam kitab suci-Nya.
       
Artinya :”Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari kiamatberseri-seri melihat Tuhanya). (Q.S. Al-Qiyamah : 22-23)
Berbeda dengan Mu’tazilah yang tidak sependapat dengan mereka. Tentang konsep Ru’yatullah, golongan ini mengatakan bahwa dzat Allah tidak bisa dilihat di akhirat, berdasarkan firman-Nya
          
Artinya :”Dia (Allah) tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan”.( Q.S. Al-An’am : 103)
Kita melihat bahwa ayat yang digunakan sebagai dalil oleh golongan Mu’tazilah tidak menyebutkan waktu, apakah konsep ru’yatullah itu di alam dunia atau di akhirat. Sedangkan dalil yang digunakan Ahlu Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah waktunya spesifik dan jelas yaitu kelak di akhirat. Dengan demikian, maka alasan yang digunakan Ahlu Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah lebih kuat, sebab bersifat khusus, yaitu mengenai waktu.
Argumen yang digunakan Mu’tazilah adalah bahwa sesuatu yang terlihat itu harus ada di suatu tempat, jurusan dan dalam bentuk sedangkan semua itu mustahil bagi Allah. Untuk menjawab itu semua Ahlu Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah berpendapat bahwa segala yang ada itu sah untuk dilihat. Adapun syarat suatu tempat dan bentuk itu untuk penglihatan di dunia, sedangkan Allah tidak memberitahukan kita tentang bagaimana cara kita melihat-Nya di akhirat nanti. Sifat-sifat yang tidak dapat diberikan kepada Tuhan hanyalah sifat-sifat yang akan membawa kepada arti diciptakannya Tuhan. Sifat bahwa Tuhan dapat dilihat tidak membawa kepada hal ini; karena apa yang dapat dilihat tidak mesti mengandung arti bahwa ia mesti bersifat diciptakan. Dengan demikian kalau dikatakan Tuhan dapat dilihat, ini tidakmesti berarti bahwa Tuhan harus bersifat diciptakan.
Tidak hanya itu, tentang melihat Rasulullah dalam mimpi pun masih kontroversial. Sebagaian teolog mengatakan bahwa itu hanya terjadi dalam hati seseorang, tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, dalam arti seakan-akan kita merasakan kehadiran Nabi Muhammad. Sebagian golongan yang mengatasnamakan dirinya sebagai Shalihin juga ikut andil, mereka tidak sependapat dengan sebagian teolog, dengan memunculkan statmen bahwa Nabi Muhammad bias kita lihat dengan mata telanjang. Setelah terjadi perdebatan panjang, akhirnya memunculkan sebuah kesimpulan bahwa:
Pertama, Kehadiran Rasulullah dalam mimpi kita dalam wujud tidak asli
Kedua, Kehadiran Rasulullah khusus bagi mereka yang semasa dengan beliau, akan tetapi mereka belum pernah melihat dan bertemu dengannya.
Ketiga, Kehadirannya dalam mimpi kita dalam wujud nyata.








BAB III.
PENUTUP
Dari sekian pembacaan yang panjang terkait dengan ru’yatullah dan ru’yatun Nabi masih kita temukan adanya kontroversial pendapat tentang masalah tersebut. Dalam ru’yatullah sendiri antara Ahlu Al Sunah Wa Aljama’ah dan Mu’tazilah saling mengemukakan pendapatnya sendiri-sendiri, dengan dalil-dalil yang telah didokumentasikan Allah dalam kitab sucinya. Sebagaimana ru’yatullah, ru’yatun Nabi pun juga kita temukan adanya perbedaan pendapat, misalnya dalam Fathu Al Bari menjelaskan bahwa: kehadiran Nabi bukan dalam bentuk yang nyata, kehadiran Beliau dalam bentuk yang nyata, ada juga yang menjelaskan bahwa ru’yatun Nabi hanya bisa bagi orang-orang yang semasa dengan Beliau yang belum melihat atau bertemu dengannya.

ferry&wahyu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar